Home » , » MUHAMMAD ALI BERSYAHADAT ATAS GELANGGANG

MUHAMMAD ALI BERSYAHADAT ATAS GELANGGANG

Written By Mohd Amirul on Wednesday, October 20, 2010 | 1:42 AM


Biodata:

Nama sebelum Islam: Cassius Marcellus Clay Junior (Jr)
Lahir : 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, Amerika Syarikat
Ayah : Cassius Marcellus Clay Senior (Sr)
Ibu : Odessa Grady Clay

Siapa tidak kenal Muhammad Ali, bekas juara tinju dunia heavyweight tiga kali. Semasa, Muhammad Ali terkenal sebagai seorang peninju yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannya dia digelar The Greatest (terbesar).



Ini kerana dia mampu menewaskan peninju-peninju terhebat di zamannya, seperti George Foreman, Sony Liston, Joe Frazier, dan lainnya. Bahkan, pertarungannya melawan Foreman serta Joe Frazier menjadi pertarungan terbaik sepanjang abad ke-20.

Ali juga dikenal sebagai peninju terbaik pada masanya. Ia pernah menjadi sebuah mesin pemukul yang sangat hebat hingga menimbulkan rasa takut pada lawannya. Sebelum berganti nama menjadi Muhammad Ali, ia bernama Cassius Marcellus Clay Junior. Hingga kini, namanya dianggap sebagai peninju terbaik yang pernah dimiliki rakyat Amerika Syarikat dan orang kulit hitam.


Bahkan, gelaran itu mengubah status pandangan masyarakat AS terhadap orang dan atlet kulit hitam yang akhirnya mengangkat martabat para atlet kulit hitam ke tempat yang tinggi dengan penghormatan dan penerimaan yang baik dari masyarakat kulit putih dan hitam.

Pada usia 22 tahun, ia merasa dilahirkan kembali ke dunia (masuk Islam). Sebab, saat itulah, ia menukar nama dari Cassius Marcellus Clay Junior kepada Muhammad Ali. Nama ini merupakan pemberian seorang tokoh Muslim dari Nation of Islam (NOI), Elijah Muhammad, tahun 1964.

Selama tiga tahun sebelum pertarungannya untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas berat dengan Sonny Liston, Clay telah menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh NOI. Kehadiran Ali diberitakan oleh akhbar Daily Nezus di Philadelphia pada September 1963. Pada Januari 1964, dia membuat sensasi besar dengan berbicara di sebuah rpat umum Muslim di New York.Muhammad Ali belajar agama Islam di bawah bimbingan Kapten Sam Saxon (sekarang Abdul Rahman) yang dijumpai Clay di Miami pada 1961.

Di samping itu, ia juga mencari bimbingan dan saran dari Malcolm X–tokoh NOI lainnya–yang dijumpainya di Detroit pada awal 1962.

Sebelum pertandingan Clay melawan Liston, Malcolm mengunjungi Clay sebagai peribadi, bukan sebagai wakil Elijah. Malcolm menganggap Clay sebagai adiknya dan menasihati dia. Nasihat Malcolm ini menjadikan penambah semangatnya untuk bertekad mengalahkan Liston.

Walaupun merasa sangat takut menghadapi Liston, akhirnya Clay menang dalam pertandingan. Pertandingan tersebut berakhir sebelum loceng pusingan ketujuh berbunyi. Dengan kemenangan tersebut, dunia memiliki seorang juara baru di arena tinju.


 Di antara riuh tepukan dan sorakan para penonton dan silauan lampu kamera, Clay berdiri di depan jutaan penonton yang mengelilingi gelanggang dan kamera TV. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengumumkan pergantian namanya menjadi Muhammad Ali Clay. ”Aku yakin bahawa aku sedang berada di depan sebuah kebenaran yang tak mungkin berasal dari manusia,” ujarnya.

Ali mengungkapkan, perpindahannya ke agama Islam adalah hal yang wajar dan selaras dengan fitrah yang Allah ciptakan untuk manusia. Ia meyakini bahwa Islam membawa kebahagiaan untuk semua orang. Menurutnya, Islam tidak membeza-bezakan warna kulit, etnik, dan bangsa. ”Semuanya sama di hadapan Allah SWT. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang paling bertakwa.”

Ia membandingkan ajaran Kristian dengan ajaran Tauhid dalam Islam. Menurutnya, Islam lebih rasional. Kerana, tidak mungkin tiga Tuhan mengatur satu alam dengan rapi seperti ini. Hal tersebut dinilainya sebagai suatu hal yang mustahil terjadi dan tidak akan memuaskan orang yang berakal dan mau berfikir.

Keyakinannya terhadap Islam makin bertambah manakala Ali membaca terjemahan Alquran. ”Aku bertambah yakin bahwa Islam adalah agama yang hak, yang tidak mungkin dibuat oleh manusia. Aku mencuba rapat dengan komuniti Muslim dan aku mendapati mereka dengan perangai yang baik, toleransi, dan saling membimbing. Hal ini tidak aku dapatkan selama bergaul dengan orang-orang Nasrani yang hanya melihat warna kulitku dan bukan keperibadianku,” paparnya.

Sejak saat itu, ia membelanjakan wangnya beberapa ratus ribu dolar untuk buku-buku dan pamplet-pamplet Islam supaya dapat memperkenalkan agama barunya.

Ketika para doktor di AS mengesahkan dia menghidap dengan penyakit Sindrom Parkinson, Ali mengatakan bahawa dia telah mendapatkan hidup yang baik sebelumnya dan sekarang. Dia tidak memerlukan simpati dan belas kasihan. Dia hanya ingin menerima kehendak Allah SWT. Penyakitnya ini, menurut dia, merupakan cara Allah SWT merendahkannya untuk mengingatkannya pada kenyataan bahwa tak ada seorang pun yang lebih hebat dari Allah.

Sumber : http://alkurawi.blogspot.com

________________

Teknik Menjawab Soalan Temuduga
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SUATU PERJALANAN MAYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger